PALEMBANG, IDEPUBLIK.COM – Di tengah derasnya arus globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi, dunia pendidikan dihadapkan pada dua sisi yang tak terpisahkan: peluang besar sekaligus tantangan serius.
Akses ilmu pengetahuan yang semakin luas membuka pintu bagi generasi muda untuk bersaing di tingkat global. Namun, di sisi lain, nilai-nilai budaya lokal mulai tergerus, bahkan terancam hilang.
Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Dr. Saipul Annur, M.Pd. Ia menegaskan bahwa globalisasi membawa dua dampak utama yang harus disikapi secara bijak oleh sistem pendidikan.
“Dampak positifnya adalah kemudahan akses ilmu pengetahuan, perluasan jaringan global, serta terbukanya berbagai peluang baru. Namun, dampak negatifnya tidak kalah besar, seperti lunturnya nilai budaya lokal, krisis moral generasi muda, hingga munculnya gaya hidup konsumtif dan individualistik,” ujarnya.
Menurut Prof. Saipul, solusi strategis yang perlu dilakukan adalah menguatkan pendidikan berbasis local wisdom atau kearifan lokal.
Ia menjelaskan bahwa kearifan lokal merupakan kumpulan nilai, norma, adat, dan pengetahuan yang tumbuh secara organik dalam kehidupan masyarakat.












