“Local wisdom bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi panduan hidup yang telah teruji oleh waktu. Ia lahir dari proses adaptasi masyarakat terhadap lingkungan dan tantangan kehidupan,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menambahkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal mengandung kebijaksanaan, etika, dan prinsip hidup luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui tradisi dan praktik sosial.
Dalam konteks pendidikan, konsep ini diwujudkan melalui integrasi nilai-nilai budaya lokal ke dalam kurikulum dan proses pembelajaran. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter yang berakar kuat pada identitas bangsa.
“Nilai budaya lokal harus menjadi jiwa dalam pembelajaran, bukan sekadar muatan tambahan,” tegasnya.
Implementasinya, lanjut Prof. Saipul, dapat dilakukan melalui pendekatan karakter dan kontekstual, seperti penerapan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman nyata siswa di lingkungan mereka. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin harus menjadi fondasi utama dalam proses tersebut.
Ia juga menekankan bahwa kearifan lokal memiliki peran penting dalam menjawab tantangan global. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi benteng sekaligus kompas bagi generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman.












