Diantaranya sebagai tempat nenek moyang atau leluhur zaman dulu, tempat persembunyian masa penjajahan dari kejaran Kolonial Belanda, hingga cerita lainnya.
“Kenapa gua ini dinamakan Gua Kelelawar?” tanya Jumadi salah satu pemandu lokal. “Karena menjadi habitat ribuan kelelawar,” jawab Jumadi, dengan nada ramah.
Ini sangat beralasan karena kelelawar memang hidup dan berkembang biak di dalam gua.
Selain itu, keberadaan gua menjadikan tempat aman bagi kelelawar dari pemangsa predator dan cuaca ekstrem.
Selain itu juga tempat bergelantungan yang ideal. Mengingat kelelawar tidur dengan posisi terbalik, sehingga menjadikan langit-langit gua cocok untuk itu.
Bagi pemandu lokal, untuk mengenal secara detail tentang Gua Kelelawar tidak mudah, mereka selain menguasi jalur, juga memahami cerita yang sudah terjaga turun-temurun.
Untuk melestarikan tentang cerita Gua Kelelawar tersebut, para tetua desa mewariskannya kepada generasi muda untuk dilestarikan.
“Dulu, nenek moyang menjadikan Gua Kelelawar ini bukan hanya sebagai tempat bersembunyi, tetapi tempat bersosialisasi satu dengan lainnya,” terang Jumadi.







