Tak hanya itu, pria kelahiran Bengkulu ini mengatakan dalam bekerja cendrung melaksanakan prosedur dari pada mengembang prosedur.
Bahkan lebih percaya mesin dari pada keyakinan dan budaya.
“Modernisasi ini bukan menjadi pengendali manusia, tetapi manusia sendiri yang harus mengendalikannya,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi (Prodi) Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) FITK UIN Raden Fatah Palembang ini.
Maksudnya terang Saipul, secanggih apapun perangkat mesin atau apapun itu bentuknya, nilai-nilai etika yang telah menjadi jati diri bangsa ini harus tetap terjaga.
Artinya, jangan tergerus oleh gempuran pengaruh modernisasi, yang lebih cendrung menggunakan simbol dari pada diskripsi psikologis.






