Oleh: Sholeh Hasan, M.Pd.I (Ketua Prodi PAI di Universitas Nurul Huda)
SETIAP pagi, ritual kita seringkali sama: buka mata, cari ponsel. Scroll notifikasi media sosial, baca chat, lihat berita terbaru.
Dunia begitu cepat dan penuh tuntutan. Di tengah hiruk-pikuk digital ini, di manakah ruang untuk hening?
Di manakah kesempatan untuk menyapa Sang Pencipta sebelum kita menyapa dunia maya?
Pertanyaan ini bukan sekadar kekhawatiran generasi tua, melainkan kegelisahan nyata banyak muslim modern.
Kita hidup di era distraksi abadi, di mana perhatian adalah komoditas yang diperebutkan oleh segala platform.
Lantas, bisakah kita masih menemukan ketenangan spiritual, atau justru sebaliknya, teknologi digital ini bisa menjadi jembatan menuju-Nya?
Dua Sisi Mata Uang Digital
Teknologi, dalam pandangan Islam, adalah wasilah—sebuah perantara atau alat. Nilainya tergantung pada tujuan dan cara penggunaannya.
Ponsel pintar kita adalah contoh sempurna: ia adalah khairun (kebaikan) sekaligus potensi syarrun (keburukan).
Di satu sisi, distraksi yang ditimbulkannya nyata. Istilah ghaflah (kelalaian hati) menemukan mediumnya yang paling sempurna di era ini.
Scroll tanpa henti di media sosial dapat dengan mudah mencuri waktu yang seharusnya untuk introspeksi diri atau shalat tepat waktu. Informasi yang overload juga membanjiri pikiran, membuatnya sulit untuk khusyuk. Suara hati kita terdesak oleh deru like, share, dan comment.












