Dalam hitungan menit, potongan tersebut dapat menyebar luas dan memicu reaksi emosional publik.
Masalahnya bukan semata pada videonya, melainkan pada konteks yang hilang.
Dalam kajian ilmu bahasa, fenomena ini dapat dijelaskan melalui Pragmatics, yaitu cabang ilmu yang menekankan bahwa makna tidak hanya terletak pada kata-kata, tetapi juga pada situasi saat kata-kata itu digunakan.
Artinya, untuk memahami suatu ujaran, kita perlu mengetahui siapa yang berbicara, kepada siapa ujaran itu ditujukan, dan dalam kondisi seperti apa ujaran tersebut disampaikan.
Sederhananya, kata-kata tidak pernah berdiri sendiri.
Ambil contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Seorang anak pulang ke rumah dengan nilai ujian yang buruk. Orang tuanya kemudian berkata, “Bagus sekali.”
Secara literal, kalimat itu terdengar seperti pujian. Namun dalam konteks tersebut, maknanya justru sebaliknya: ungkapan kekecewaan atau sindiran.
Jika kalimat itu dipotong dan disebarkan tanpa konteks, orang lain bisa saja mengira bahwa orang tua tersebut benar-benar bangga.
Hal yang sama terjadi pada video pendek di media sosial. Ketika sebuah pernyataan dipotong dari keseluruhan percakapan, maknanya dapat bergeser.
Bahkan, dalam banyak kasus, pergeseran ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan disengaja untuk membangun opini tertentu.










