Oleh: Ahmad Ulin Ni’am
(Dosen Universitas Nurul Huda OKU Timur)
DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu pesat, pendidikan agama Islam (PAI) di sekolah dan madrasah menghadapi tantangan yang tidak sederhana.
Pendidikan tidak lagi cukup hanya mentransfer pengetahuan, melainkan juga membentuk karakter, menanamkan nilai moral, dan membangun kesadaran spiritual siswa.
Dalam konteks ini, kompetensi pedagogik guru PAI menjadi sangat penting, karena melalui penguasaan pedagogik, guru mampu mengelola pembelajaran yang bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga membentuk pribadi siswa yang humanis sekaligus religius.
Guru PAI dituntut untuk tidak sekadar menjadi pengajar, tetapi juga pendidik dan teladan.
Kompetensi pedagogik, yang mencakup kemampuan memahami karakteristik peserta didik, merancang strategi pembelajaran, mengelola kelas, menggunakan media, serta melakukan evaluasi, adalah fondasi utama untuk memastikan tujuan pendidikan tercapai.
Apabila guru PAI tidak memiliki kompetensi pedagogik yang baik, maka pembelajaran agama akan terjebak pada rutinitas ritual semata, tanpa menyentuh aspek kehidupan nyata siswa.
Guru PAI dan Tantangan Pendidikan Humanis
Pendidikan humanis menekankan penghargaan terhadap martabat manusia, pengembangan potensi diri, dan kebebasan berpikir yang bertanggung jawab.
Guru PAI dengan kompetensi pedagogik yang kuat mampu menjadikan pembelajaran sebagai ruang dialog, bukan sekadar ceramah satu arah.
Misalnya, ketika membahas topik akhlak, guru tidak hanya menyampaikan dalil-dalil normatif, melainkan juga membuka ruang diskusi tentang bagaimana akhlak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, rumah, maupun masyarakat.
Dengan pendekatan humanis, siswa diajak untuk memahami agama bukan sekadar kumpulan aturan, tetapi sebagai pedoman hidup yang relevan dengan konteks zaman.
Guru PAI yang kompeten secara pedagogik akan memandang setiap siswa memiliki potensi unik, sehingga proses pembelajaran harus memperhatikan perbedaan latar belakang, kemampuan, dan minat.
Sikap inklusif ini mencerminkan nilai-nilai humanisme yang berakar pada ajaran Islam itu sendiri, yang menekankan penghormatan terhadap sesama manusia tanpa memandang suku, budaya, atau status sosial.









