Oleh: Muhammad Ikhsanudin
(Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam
Universitas Nurul Huda)
PENDIDIKAN Islam sering dihadapkan pada kritik karena dianggap hanya menekankan aspek kognitif dan hafalan, sementara dimensi praksis dan amal belum optimal diinternalisasikan.
Padahal, pendidikan Islam sejatinya bertujuan untuk membentuk insan kamil, yakni manusia yang berilmu sekaligus beramal saleh.
Tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi menuntut lahirnya model pendidikan Islam progresif yang tidak hanya berorientasi pada masa lalu, tetapi juga siap menghadapi masa depan.
Saya berpendapat bahwa pendidikan Islam progresif hanya dapat diwujudkan jika berlandaskan pada paradigma Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Aswaja dengan prinsip moderat, seimbang, toleran, dan adil memberikan kerangka epistemologis untuk mengintegrasikan ilmu dan amal.
Pendidikan Islam tidak cukup melahirkan ilmuwan, tetapi juga harus menghasilkan insan yang mengimplementasikan ilmunya untuk kemaslahatan umat.












