Sepeti halnya sikap empati. Guru menunjukkan empati, memahami perasaan anak, dan membangun hubungan yang positif.
“Dan tak kalah pentingnya adalah komunikasi. Guru menciptakan komunikasi yang terbuka dan mendukung, membantu anak mengekspresikan emosi,” terangnya.
Selanjutnya kolaborasi. Pada posisi ini lanjut Prof. Saipul, guru mendorong kerja sama, memfasilitasi interaksi sosial yang sehat, dan membangun rasa komunitas.
Barulah peran beriutnya adalah pertumbuhan. Dalam hal ini guru berperan membantu anak belajar mengidentifikasi, memahami, dan mengatur emosi mereka sendiri.
“Pendidikan ini kpmpleks, tidak hanya fokus pada komponen pembeljaran saja, melainkan dari sisi pendidikan emosional anak didik pun harus diperhatikan. Untuk itu, perlu kolaborasi semua elemen dalam mendukung iklim pendidikan yang baik,” ungkap Prof. Saipul.*












