Pendidikan di sini tidak hanya dimaknai sebagai proses formal, melainkan juga sebagai sarana pewarisan nilai, penguatan karakter, dan pembentukan kesadaran kolektif. Dengan demikian, kolaborasi antara elit pribumi Komering dan pendatang Jawa, dalam batin kesadarannya berorientasi gerak untuk membentuk harmoni sosial yang berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan universal. Namun, dalam lahir kenyataannya juga berdampak pada kemajuan material.
Kolaborasi lintas etnis di Sukaraja menggambarkan bentuk peradaban kosmopolitan berbasis nilai lokal. Hubungan antara masyarakat Komering dan warga Jawa tidak didasari oleh hierarki sosial, melainkan oleh rasa saling menghormati dan keinginan bersama untuk membangun daerah.
Proses ini menciptakan ruang sosial yang inklusif, di mana perbedaan etnis justru menjadi kekuatan untuk saling melengkapi. Dari sinilah muncul konsep pembangunan berkelanjutan yang bertumpu pada kesadaran masyarakat lokal untuk memahami dan mengelola potensi budayanya sendiri tanpa harus menunggu intervensi dari luar.
Prinsip “suka duka ramai bekerja” menjadi pedoman moral yang tidak lekang oleh waktu. Nilai tersebut tidak hanya menggambarkan semangat gotong royong dalam arti ekonomi, tetapi juga mengandung makna spiritual dan moral yang mendalam.
Di tengah perubahan zaman dan tantangan modernisasi, masyarakat Sukaraja tetap mempertahankan nilai-nilai ini sebagai identitas sekaligus kekuatan sosial. Etos kerja tersebut menjadi dasar dalam menjaga kerukunan, memperkuat solidaritas, dan menghadapi berbagai tantangan tanpa kehilangan akar budaya.
Secara keseluruhan, Desa Sukaraja dapat dipandang sebagai model transformasi sosial yang berakar pada kolaborasi budaya dan pendidikan. Pembangunan di desa ini menunjukkan bahwa kemajuan sejati bukan hasil dari teknologi atau modal finansial, tetapi dari kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga nilai, moral, dan kebersamaan. Atau dalam istilah lain disebut sebagai modal sosial.
Dari warisan Keria Muhammad Daud hingga praktik sosial masa kini, semangat “ramai bekerja” terus hidup dan menjadi pedoman etis yang menuntun masyarakat menuju kehidupan yang berkeadilan, berbudaya, dan berperadaban.
- Penulis adalah mahasiswa baru Prodi PBSI FIP Unuha Angkatan 2025.







