PENDIDIKAN

Kontroversi Meninggalkan HP dalam Pembelajaran di Sekolah

×

Kontroversi Meninggalkan HP dalam Pembelajaran di Sekolah

Sebarkan artikel ini
Dr. Afriantoni, M.Pd, Dosen Magister MPI FITK UIN Raden Fatah 
Dr. Afriantoni, M.Pd, Dosen Magister MPI FITK UIN Raden Fatah 

Kedua, kembali ujian langsung. Sistem ujian langsung seperti EBTANAS yang diusulkan juga sejalan dengan pendekatan ini. Ujian dengan sistem tatap muka menguji kemampuan siswa secara langsung dan lebih objektif. Dalam ujian seperti ini, siswa dituntut untuk mempersiapkan diri dengan lebih maksimal, sehingga mereka belajar untuk memahami materi, bukan sekadar mencari jawaban instan dari internet atau HP. Ini tentu lebih mengembangkan kemampuan akademis siswa secara menyeluruh.

Ketiga, nilai rapor yang murni bagi siswa. Artinya dengan nilai murni ini, maka rapor siswa mencerminkan kemampuan siswa akan lebih menggambarkan hasil belajar yang sesungguhnya. Selama ini, ada kecenderungan bahwa nilai rapor tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan siswa karena berbagai faktor, seperti kebijakan yang tidak objektif atau bahkan penggunaan teknologi yang memudahkan pekerjaan siswa. Dengan kebijakan baru ini, nilai rapor diharapkan menjadi lebih kredibel dan lebih akurat dalam mencerminkan kapasitas intelektual siswa.

Keempat, mendorong pekerjaan rumah (PR) yang aktif dari siswa.Oleh karena itu, kebijakan yang tidak mengumumkan PR kepada orang tua siswa dapat mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab terhadap tugasnya. Dalam konteks ini, PR akan menjadi sarana untuk menguji kemampuan mandiri siswa dalam menyelesaikan tugas dan menyerap materi pelajaran. Hal ini juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan disiplin dan kemandirian tanpa adanya intervensi langsung dari orang tua. Orang tua dapat tahu perkembangan anak melalui nilai rapor dan pengumuman di papan informasi sekolah.

Kelima, pengumuman yang hanya dilakukan melalui papan informasi sekolah mendorong siswa untuk lebih aktif mencari informasi terkait kegiatan akademik. Ini juga dapat mengurangi ketergantungan pada sistem komunikasi yang lebih mudah melalui aplikasi pesan instan atau platform digital lainnya. Siswa akan terbiasa untuk mencari informasi langsung dari sumber resmi di sekolah, yang tentunya dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kemandirian mereka.

Dari uraian di atas, maka daya ingat dan kemampuan analisis siswa juga akan terasah dengan meningkatnya kebiasaan membaca buku. Ketika siswa terbiasa membaca buku untuk mencari referensi, mereka akan melatih kemampuan memori dan analisis mereka. Proses membaca buku mengharuskan siswa untuk berpikir lebih mendalam dan menghubungkan berbagai informasi, yang jauh lebih efektif dibandingkan dengan sekadar mencari jawaban instan di internet melalui HP. Ini adalah keterampilan yang penting untuk masa depan mereka.

Handphone & Budaya Sekolah

Pertama, penggunaan HP memang memberikan kemudahan akses informasi, namun sering kali menyedot perhatian siswa dari tujuan utama belajar. Banyak siswa yang lebih tertarik untuk bermain game, mengakses media sosial, atau hanya sekadar berselancar di internet selama waktu pembelajaran. Hal ini mengakibatkan pengurangan daya serap informasi mereka. Mentalitas siswa pun cenderung menjadi lebih malas dan kurang fokus, karena kemudahan yang ditawarkan oleh HP membuat mereka tidak terbiasa bekerja keras dalam belajar..