PENDIDIKAN

Kontroversi Meninggalkan HP dalam Pembelajaran di Sekolah

×

Kontroversi Meninggalkan HP dalam Pembelajaran di Sekolah

Sebarkan artikel ini
Dr. Afriantoni, M.Pd, Dosen Magister MPI FITK UIN Raden Fatah 
Dr. Afriantoni, M.Pd, Dosen Magister MPI FITK UIN Raden Fatah 

Kedua , okus belajar terganggu, maka sesungguhnya penggunaan handphone di sekolah sering kali mengalihkan perhatian siswa dari materi pelajaran. Ketika siswa membawa handphone ke kelas, mereka cenderung lebih tertarik untuk mengakses media sosial, bermain game, atau berselancar di internet, daripada berkonsentrasi pada pembelajaran yang sedang berlangsung. Hal ini dapat mengurangi efektivitas proses belajar dan mempengaruhi daya serap siswa terhadap informasi yang diberikan oleh guru.

Ketiga, mengurangi lemandirian, maka pada penggunaan handphone di sekolah dapat membuat siswa bergantung pada teknologi untuk mencari jawaban atau informasi, alih-alih berpikir kritis dan memecahkan masalah secara mandiri. Ketergantungan ini dapat melemahkan kemampuan siswa dalam berpikir secara mendalam dan mengembangkan keterampilan kognitif seperti analisis dan daya ingat, karena mereka lebih sering mencari informasi secara instan melalui perangkat digital daripada menggali materi pelajaran secara mendalam dengan membaca buku.

Terakhir, meskipun teknologi harus tetap dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk guru dan sekolah, kebijakan ini menegaskan pentingnya siswa belajar dengan sungguh-sungguh. Di luar negeri, banyak sekolah sudah mulai membatasi penggunaan HP di dalam kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Siswa diajarkan untuk lebih bertanggung jawab terhadap proses belajarnya, bukan bergantung pada perangkat digital yang bisa mengalihkan perhatian mereka. Ini adalah langkah yang sangat positif untuk mempersiapkan generasi yang lebih fokus, disiplin, dan cerdas.

Kondisi Pembelajaran di Sumatera Selatan

Di Sumatera Selatan, tantangan dalam pendidikan juga tidak kalah besar, namun kebijakan seperti yang diusulkan oleh Gubernur Dedi Mulyadi juga bisa memberi dampak positif. Salah satu permasalahan yang dihadapi di Sumatra Selatan adalah rendahnya kualitas pembelajaran yang terjadi di beberapa daerah, terutama di wilayah pedesaan. Siswa di daerah-daerah ini cenderung lebih mengandalkan teknologi, termasuk HP, untuk mendapatkan informasi. Hal ini menyebabkan kurangnya pemahaman yang mendalam tentang materi pelajaran karena siswa lebih sering mengakses informasi instan daripada belajar melalui buku.

Selain itu, di beberapa daerah di Sumatera Selatan, sistem pembelajaran masih bergantung pada metode konvensional dengan keterbatasan fasilitas. Sebagai contoh, di daerah yang lebih terpencil, akses ke sumber daya belajar seperti buku masih terbatas. Oleh karena itu, kebijakan untuk meningkatkan minat baca dengan lebih mengandalkan buku sebagai sumber utama informasi dapat menjadi langkah penting. Dengan meninggalkan ketergantungan pada HP, siswa di Sumatra Selatan dapat lebih terfokus dalam mempelajari materi pelajaran dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka.

Namun, teknologi tetap harus dimanfaatkan secara bijak oleh para guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Di Sumatera Selatan, terutama di daerah perkotaan, teknologi dapat menjadi alat bantu yang sangat efektif untuk memperkaya pembelajaran. Misalnya, aplikasi pembelajaran dapat digunakan oleh guru untuk memberikan materi tambahan atau latihan soal yang interaktif. Tetapi, seperti yang disarankan, siswa sebaiknya tidak lagi menjadikan HP sebagai alat utama dalam proses belajar, melainkan sebagai alat bantu dalam pembelajaran yang lebih terstruktur dan terarah.