Afriantoni – Pemerhati Pendidikan
DI TENGAH derasnya arus informasi digital, akal sehat menjadi komoditas langka. Kita hidup di zaman ketika kecepatan sering mengalahkan kebenaran, dan kepastian palsu lebih menarik daripada keraguan yang bijak.
Dalam pusaran ini, menjaga kejernihan berpikir bukan sekadar urusan pribadi, melainkan pertahanan sosial terakhir agar masyarakat tidak terjerumus dalam kebingungan massal.
Informasi dan Emosi Manusia
Era digital seolah membuka surga pengetahuan, tetapi juga menyiapkan jebakan halus: kelebihan informasi tanpa kedalaman.
Setiap menit, ribuan potongan berita, opini, dan komentar bertebaran tanpa kendali.
Kita hidup dalam banjir data tanpa saringan nilai. Dalam kecepatan semacam itu, yang viral sering kali menenggelamkan yang faktual.
Kondisi ini melahirkan fenomena yang disebut infodemic — ketika informasi berlimpah justru menimbulkan disinformasi. Kelebihan informasi bukan membuat manusia lebih cerdas, melainkan lebih bingung dan mudah digiring. K
ita terbiasa mengonsumsi informasi yang sejalan dengan perasaan, bukan pikiran.
Algoritma media sosial memperkuat kebiasaan ini dengan menghadirkan konten sesuai selera, menciptakan “gelembung kenyamanan” yang memanjakan ego dan menutup ruang dialog.











